Sinar matahari pagi mengusik mata ku yang terjam dari jam 2 pagi tadi. Hari yang sama seperti kemarin, rutinitas yang sama, suasana yang sama, menu sarapan yang sama, dan wajah yang sama setiap paginya. Ku lirik wajah seorang pria yang tidur disampingku yang sudah berpuluh-puluh tahun menjadi teman tidurku. Perut yang menggelambir, kerutan usia menghiasi sudut-sudut wajahnya, rambut yang berantakan dan jenggot yang mulai menongol malu-malu. Ku tarik nafas dalam-dalam udara kamar yang sumpek ini, bukan karena kamar ini berdiameter kecil dengan barang-barang yang berjejalan didalamnya. Tetapi karena pikiran, hati dan tubuhku berharap berada ditempat lain, entah dimana yang jelas bukan disini.
Kulihat pemandangan siang hari dari jendela kantor ku yang terletak di lantai 15. Semua terlihat kecil, bergumul, dan menjijikan. Aku benci pemandangan dari jendela kantorku, aku benci meja kantorku yang bersebelahan dengan jendela itu, aku benci lampu kantorku yang terlalu terang, aku benci tumpukan kerjaan diatas meja ku, aku benci bos ku, aku benci teman kantor ku, bahkan kini aku membenci pekerjaan ku. Ku teguk segelas kopi dari cangkir bergambar logo kantor ku, aku pun benci cangkir itu dan aku sangat benci kopi yang terpaksa aku minum sekarang ini. Ku pejamkan sejenak kedua mata ku, suara hati ku menyembul diantara kepenatan yang menghunjam. Memang tak ada manusia yang sempurna tapi tak berhakkah aku mendapatkan yang lebih dari ini.
Wangi makan malam menusuk hidungku. Pria itu tersenyum dan menanyakan bagaimana hari ini dikantorku. Pertanyaan yang sama setiap malam dan jawaban yang sama terucap dimulut ku “Biasa saja, sama seperti kemarin tidak ada yang special”. Ku sendokan makanan yang dibuat pria itu, dia bercerita penuh semangat tentang proyek yang berhasil dia menangkan sambil menbusungkan dada dengan bangga dia menerawang masa depan. Aku? Hanya seperti biasa tersenyum seadanya mendengarkan dia bercerita. Di tempat tidur seperti biasa aku masih sibuk mengutak-utik pekerjaan. Pria itu mencium keningku mengucapkan selamat tidur seperti malam sebelumnya, sebelumnya dan sebelumnya. Kulihat ia menarik selimut dan tidur membelakangi diriku yang masih sibuk dengan pekerjaan yang sangat aku benci, tak pernah kah dia berpikir untuk bertanya tentang apa yang aku rasakan dan segala kebosanan semua rutinitas yang aku benci tapi mau tidak mau aku harus jalani. Bukannya aku tidak bersyukur dengan apa yang sudah dapatkan sekarang ini. Pria yang mencintai ku apa adanya dan aku sangat mencintainya. Ku hela nafas di dada ku yang sesak, ternyata kadang kala cinta saja tidak cukup.
Ku sikat gigiku seperti pagi biasanya, pria itu mencium kening ku saat mulutku masih belepotan pasta gigi. Pria itu menjelaskan malam ini dia pulang telat dan tidak bisa memasak makan malam untuk ku. Aku hanya menganggukan kepala dan dia pun pergi menghilang dari pandanganku. Tiba-tiba tersirat pikiran buruk didalam bongkahan otak ku. Bagaimana bila aku mengepak baju ku kedalam koper dan menghilang begitu saja seperti debu yang terbawa angin malam ini. Atau aku mati saja? Bukankah aku sudah merencanakan jutaan rencana bunuh diri. Ku kumur mulut ku dan kupandangi wajahku di cermin kecil diwastafel. “Pecundang” suara kecil berasal dari nuraniku lalu ego ku menjawab “loh bukankah selama ini aku adalah pecundang”. aku tertawa terkekeh ternyata aku sudah gila rupanya. Lalu aku menangis, menangisi diriku dan menangisi pria yang mencintai perempuan gila ini. Buliran-buliran air menetes dari dalam mata ku yang kemudian berganti menjadi umpatan. Ku kutuki semua, hidup ku, pekerjaanku, orang tuaku, pria yang mencintaiku, tuhanku dan diriku. Lalu aku tertawa terkekeh kembali, mentertawakan wajah wanita menyedihkan yang terpantul dicermin itu. TDAKKKK!! Wanita itu aku, aku adalah wanita menyedihkan itu! Ku lempari cermin itu. Botol sabun, botol sampo, pasta gigi, sikat gigi, cangkir, gayung, semuanya kuhantamkan ke cermin itu. Aku teriak sekencang yang kubisa, teriakan pilu luka yang ku pendam selama ini yang menyayat diriku dari dalam. Kupukuli perut hina yang berisi rahim tak berguna ini. Aku ingin menangis, menangis hingga aku air mata ku kering kerontang hingga bola mataku menyusut lalu jatuh dari rongga mata ku. Aku ingin mati.. aku ingin mati… mati.. mati dengan terkutuk.. mati.. Tubuhku lunglai tak berdaya lalu terkapar menyedihkan di lantai kamar mandi.. Aku ingin mati.. mati.. mati.. mati… mati… mati.. mati… mati.. mati…mati.. mati.. mati.. mati.. mati.. mati…mati.. mati.. mati.. mati.. mati.. mati…mati.. mati.. mati.. mati.. mati.. mati…mati.. mati.. mati.. mati.. mati.. mati…mati.. mati.. mati.. mati.. mati.. mati…mati.. mati.. mati..
Mati…
Mati….
Mati…
Mati….
….Mati
…Mati
…Mati
Ku cium wangi yang sangat ku kenal, wangi yang selalu kucium bertahun-tahun, wangi yang selalu memeluk ku, ini wangi pria itu. Tubuhku lunglai dipelukannya. “Aku ini terkutuk” kataku lirih, namun dia hanya tersenyum. “Aku ini monster” kata ku lagi, dia pun tersenyum dan menggeleng. “Aku yang membunuh mereka, aku yang mencekik dan menggorok leher kecil itu” kataku sambil terisak. Pria itu menyuapi ku satu butir obat dan beberapa teguk air hangat putih. Lalu dia pun tersenyum kembali. Suasana hening sementara, senyap seakan-akan ikut larut dalam duka ku yang paling dalam. Kulirik kearah jendela kamar ini, diluar sudah gelap, lampu-lampu tetangga sudah menyala dibalik korden dan kelambu. Pria itu menarik selimut untuk menutupi tubuhku yang lunglai tak berdaya. Ku pegang tangannya, kutatap dalam-dalam mata yang teduh itu. “Maaf

0 komentar:
Posting Komentar